Fresh Juice 7 September 2016 – Luk. 6:20-26 : Apakah anda bahagia saat ini?

Play

Pembawa Renungan : RP. John Laba, SDB
Timor Leste

Luk. 6:20-26.

instagramFJ20160907

Lectio:

Pada waktu itu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Demikianlah Injil Tuhan kita

Terpujilah Kristus.

Renungan:

Apakah anda bahagia saat ini?

Pada hari Minggu, tanggal 4 September 2016 yang lalu, Paus Fransiskus mengumumkan ke seluruh dunia bahwa Bunda Theresia dari Kalkuta adalah salah seorang Kudus atau Santa di dalam Gereja Katolik. Banyak di antara kita yang mengagumi kehidupan dan pelayanan beliau semasa hidupnya dan kini masih diteruskan oleh para susternya dari Tarekat Misionaris Cinta kasih. Kita semua mengenal beliau sebagai seorang Kudus modern, yang mendedikasikan dirinya secara total untuk membahagiakan kaum miskin di Kalkuta, India.

Menjelang Bunda Theresia diumumkan sebagai Santa, Sr. Mary Prema Pierick, selaku Superior Jenderal para suster Misionaris Cinta Kasih, mengatakan bahwa Bunda Teresa dari Kalkuta sudah lama menjadi ikon persekutuan, toleransi, saling menerima satu sama lain dan mencinta setiap pribadi. Negara India dengan kemajemukannya mengakui hidup dan karya beliau hingga saat ini. Bapa Suci Paus Fransiskus dalam homili pengukuhan Bunda Theresa sebagai orang kudus mengatakan bahwa St. Theresa dari Kalkuta adalah seorang pekerja Kerahiman Allah yang tidak kenal lelah. Satu-satunya harapan beliau adalah supaya kaum  miskin berbahagia di hadapan Tuhan dan sesama. Perkataan Suster Mary dan Paus Fransiskus sebenarnya mempertegas perkataan St. Theresia dari Kalkuta yakni: “Jangan biarkan orang yang datang pada anda kembali tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajah anda, kebaikan dalam mata anda, kebaikan dalam senyum anda”.

Pada hari ini kita mendengar Sabda Bahagia versi Injil Lukas. Sabda bahagia versi Injil Lukas ini merupakan pemenuhan nubuat kenabian dalam Kitab nabi Yesaya (Yes 61:1-2) dan dikomentari secara cemerlang oleh Yesus di Nazareth (Luk 4:16-21). Yesus mengatakan bahwa Ia diutus untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin, membebaskan kaum tawanan, penglihatan bagi orang buta dan membebaskan orang-orang tertindas. Maka jelas bahwa Sabda bahagia versi Injil Lukas ini memang ditujukan kepada orang-orang yang benar-benar miskin, sedang kelaparan dan menangis karena kondisi sosialnya nyata dan dilihat sendiri oleh Tuhan Yesus. Tentu saja miskin bukan dalam arti tidak memiliki harta apapun tetapi menunjukkan kesadaran akan kelemahan mereka di hadirat Tuhan dan kesiapan mereka untuk menerima anugerah-anugerah berlimpah dari Tuhan sendiri.

Bagian pertama dari Injil secara istimewa menyapa orang-orang yang sangat membutuhkan Tuhan di dalam hidupnya. Ketika itu Yesus memandang murid-murid-Nya sebagai wakil dari komunitas Mesianis dan  berkata “berbahagialah hai kalian”: mereka yang miskin memiliki Kerajaan Allah, kelaparan karena dipuaskan, menangis karena akan tertawa. Nah orang-orang yang miskin, sedang kelaparan dan menangis bukan menggambarkan tiga tipe manusia saat itu melainkan menggambarkan sejumlah besar dari murid-murid yang sedang mengikuti Yesus (Luk 6:17). Yesus menyapa orang-orang sederhana, miskin, sedang kelaparan dan yang menangis karena mereka semua terbuka pada sebuah harapan yang diwartakan oleh Yesus yakni Injil-Nya. Mereka semua disapa berbahagia karena mereka menjadi pusat perhatian dari Tuhan sendiri. Ia menunjukkan kerahiman-Nya kepada mereka. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan di dunia ini tetapi kebahagiaan kekal yang penuh dengan harta Mesianis.

Yesus juga menyapa mereka yang dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak karena nama-Nya. Dalam situasi seperti ini mereka tetap bersukacita karena upah mereka besar di surga. Ini juga merupakan sebuah fakta yang dialami komunitas Kristen pada tahun 80-an di mana mereka mengalami diskriminasi dan dimusuhi oleh orang-orang Yahudi. Banyak di antara mereka wafat sebagai martir.

Pada bagian kedua dari Injil, Yesus mengecam orang-orang kaya, yang kenyang, tertawa dan yang dipuji. Kecaman-kecaman ini adalah lawan dari keempat Sabda Bahagia yakni mereka yang miskin, kelaparan, menangis dan yang dibenci. Keempat kecaman ini hendak membangkitkan pikiran hati kita untuk merasakan sapaan bahagia dari Tuhan sendiri.

Memahami Sabda Bahagia ini, Yesus hendak menunjukkan Wajah Kerahiman Allah kepada semua orang. Bagi orang-orang miskin, yang sedang kelaparan, menangis, dan menderita karena dibenci supaya optimis karena akan merasakan kebahagiaan surgawi kelak. Bagi mereka yang dikecam Yesus untuk berbalik kepada-Nya dan merasakan kerahiman Allah.

Bagi kita semua yang merenungkan Injil tentang Sabda Bahagia ini, Tuhan hendak membuka diri kita untuk merasakan, mengalami kebahagiaan ilahi dan mawas diri terhadap keserakahan hidup yang merupakan kebahagiaan sesaat. Kita diajak untuk berempati dengan sesama yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Biarlah mereka juga ikut merasa bahagia dalam hidupnya. Ini juga menjadi tugas kita untuk mewartakan Kerahiman Allah kepada sesama.

Mari kita bertanya dalam diri kita: Apakah secara pribadi kita merasa bahagia di hadapan Tuhan? Kalau kita merasa bahagia dalam Tuhan maka kita juga akan mewartakan kebahagiaan Tuhan kepada sesama manusia. Kerahiman-Nya benar-benar nyata dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, sadarkanlah kami untuk mencari kebahagiaan sejati yang hanya dapat kami temukan di dalam diri-Mu. Bantulah kami untuk terus mengalaminya dan mewartakannya kepada sesama kami. Biarlah mereka juga ikut merasakan kebahagiaan dan kerahiman-Mu. Amen.

PJSDB