Fresh Juice 4 Februari 2015 – Mrk. 6:1-6. : Belajar dari Yesus!

Play

Pembawa Renungan : Rm John Laba, SDB
Jakarta

Hari rabu, Pekan Biasa IV
Ibr. 12:4-7,11-15
Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a
Mrk. 6:1-6.

Lectio:

Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asalNya, sedang murid-muridNya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Demikianlah Injil Tuhan

Terpujilah Kristus.

Renungan:

Belajar dari Yesus!

Pada pagi hari ini saya mendapat pesan singkat dari seorang sahabat. Ia mengutip ucapan Thick Nhat Hanh, seorang penulis dan Guru Zen asal Vietnam, bunyinya: “Hadia paling berharga yang dapat kita berikan kepada seseorang adalah perhatian kita.” Saya membacanya dan sambil tersenyum saya berkata dalam hati:Yes! Benar sekali guru Zen ini. Banyak kali kita berpikir bahwa untuk memberi hadiah kepada sesama haruslah dalam bentuk souvenier atau benda-benda tertentu supaya disimpan sebagai kenangan. Relasi antar pribadi menjadi lebih kuat kalau ada barang. Ini sebuah kekeliruan dalam membangun relasi antar pribadi dengan sesama. Kita bisa berelasi dengan sesama kalau kita memberi perhatian kepada sesama. Perhatian tidak selamanya dalam bentuk barang. Perhatian itu jauh lebih bernilai, selalu dikenang sepanjang hidup karena barang-barang duniawi akan hilang dan rusak. Perhatian bisa diwujudkan melalui kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan.

Penginjil Markus mengisahkan pengalaman Yesus di kampung halamanNya. Selama hidup tersembunyi di Nazaret, orang hanya mengenal Yesus sebagai seorang pemuda yang bisa-biasa saja. Pekerjaannya adalah sebagai tukang kayu karena ayahnya Yusuf seorang tukang kayu dan membantu ibunya Maria. Saudara-saudara sepupuhnya bernama Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Ia juga masih memiliki saudari-saudari perempuan. Mereka semua juga orang biasa-biasa saja selayaknya orang Nazaret zaman itu.

Hal yang mendadak baru bagi orang Nazaret adalah Yesus memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat, yang sebelumnya belum pernah terjadi. Itu sebabnya mereka takjub dan bertanya-tanya: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2). Mereka memiliki hati yang keras sehingga masih mempertanyakan Yesus dan identitasNya. Mereka bahkan menolak Yesus di kampung halamannya sendiri. Ia tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dan meletakkan tanganNya atas mereka.

Dari kisah Injil ini kita bisa mengatakan bahwa di pihak manusia yakni sesama Yesus di Nazaret yang berada di dalam Sinagoga saat itu, masih tetap tinggal di tempat. Mereka tidak melihat bahwa di dalam diri Tuhan Yesus ada keselamatan. Itu sebabnya dalam bereaksi, mereka hanya mengandalkan otot saja tanpa otak untuk berpikir lebih jauh. Perilaku hidup seperti ini masih ada hingga saat ini. Banyak orang lebih suka kecewa dan menolak sesama karena tidak menaruh perhatian kepada sesama!

Lalu bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap orang-orang di Nazaret? “Ia memang tidak melakukan satu pun mukjizat di sana. Ia hanya menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakan tanganNya atas mereka.” (Mrk 6: 5). Nah, dari sikap Yesus inilah kita bisa belajar tentang seni mengampuni. Mengampuni berarti melupakan! Orang boleh kecewa dan menolak Yesus karena hanya melihat masa laluNya sebagai seorang pemuda biasa-biasa saja di Nazareth. Ia juga tidak marah dan secara frontal meninggalkan Nazareth. Tetapi di pihak Tuhan Yesus, Ia masih berusaha melupakan kedegilan hati dan kebutaan mata mereka dengan menyembuhkan dan memberkati beberapa orang. Yesus menunjukkan kepada kita kemampuan untuk mengasihi bahkan musuh sekalipun dan kemurahan hatiNya sebagai Tuhan.

Mari memeriksa bathin kita. Banyak di antara kita mengakui diri sebagai pengikut Yesus Kristus tetapi cara hidup ini masih jauh dan sulit untuk direalisasikan. Pikirkanlah dalam sehari ada yang hanya bisa melihat kelemahan sesama tanpa melihat kebajikan-kebajikan sesama. Ada yang hanya melihat masa lalu sesama tanpa menyadari bahwa manusia itu masih bisa berubah menjadi lebih baik. Seharusnya mari kita menjadi serupa dengan Yesus yang meskipun ditolak di kampung halamanNya tetapi Ia masih mengampuni dan mengasihi.

Saya mengakhiri renungan ini dengan mengutip kembali Thich Nhat Hanh yang menulis dalam bukunya “Teachings on Love” bahwa: “Jika anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, anda harus hadir sepenuhnya untuk dia! Anda menghadirkan kebahagiaan untuk diri anda dan orang lain” Tuhan Yesus mengasihi kita semua. Ia juga hadir di dalam hidup kita yang penuh kelemahan dan masih mau memberikan penebusan yang berlimpah.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu karena hari ini kami boleh belajar dariMu yaitu sikap lemah lembut dan rendah hati serta sabar terhadap manusia meskipun manusia dengan sadar menolak kehadiranMu. Bantulah kami untuk memiliki mata yang selalu melihat hal-hal terbaik dalam diri sesama dan hati yang mengasihi bahkan musuh sekali pun. Amen

PJSDB